The modesty within…

7 Dec
Saya sangat mengenal orang-orang hebat di sekitar saya. Banyak. Mereka punya sinarnya masing-masing.

Saya dibesarkan dengan tiga karakter budaya: Ayah saya, perantau sejati. Mendidik banyak nilai kemandirian, ketekunan, dan semangat mengejar cita-cita paling brilian yang pernah saya tau. Ibu saya, figur ibu Jawa yang menitipkan banyak nilai kesabaran, kerendahan hati, dan kesederhanaan berpresisi; sederhana namun sadar akan pentingnya memiliki nilai kebanggaan yang berdasarkan social positioning, tipikal keturunan keraton.

Sempat merasakan nilai dunia, dengan banyak pendewasaan dan pemahaman akan keberagaman yang membuat saya selalu yakin bila hidup ini adalah sebuah harmoni.

Lagi, saya mungkin diberikan sensitivitas untuk menangkap banyak impresi dan ekspresi lalu menerjemahkannya dalam barisan literasi maupun bahasa verbal sederhana yang bisa diapresiasi oleh mereka yang dekat dengan saya.

Saya bisa berkomunikasi dengan keseharian saya. FEUI, AFS, MSS, MIST, Teman Kostan, Teman Kuliah, Tetangga..ya, saya bisa menemukan kenyamanan saat berbagi energi di setiap putarannya. Saya bisa sangat ekspresif berbaur, ya, saya memang cerewet saat bersama mereka.

Saya bisa memahami mereka yang berpacu dengan tujuannya masing-masing, mereka yang berkeluh kesah dengan pergulatan waktu, mereka yang pintar memanfaatkan potensi kerabat seolah semua itu potensi yang mereka ramu sendiri, sampai mereka yang terlalu berhati batu saat seharusnya (regarding the position they possess) mereka mampu mengatasi ego sendiri.

Lain sisi, saya bisa menghargai private bubble saya sendiri. Saya dan semua yang saya tangkap dengan indera saya. Saya dan lagu – lagu yang saya nyanyikan sendiri, saya dan buku – buku yang saya nikmati sendiri, saya dan segala peristiwa yang terserak jujur di depan mata dan hati saya, saya dan interpretasi sendiri; yang kemudian saya bagikan dengan mereka yang dekat. Saya dan beberapa nama saja yang benar – benar mengenal saya.

The modesty of water within the light of your flaming life

Saya memang perlu menata sensitivitas ini dalam bentuk yang lebih terstruktur. Saya tetap mau menjadi orang yang ekspresif seperlunya. Saya tetap mau menjadi orang yang menghargai pentingnya berusaha. Saya tetap mau menjadi orang yang berdiri dengan alas yang baik, belari dengan niat yang baik, dan berbagi dengan mereka yang mau menjadi baik. Saya memang keras, dan saya butuh ini untuk menjaga supaya tidak ada yang perlu merasa dimanfaatkan.

Saya banyak mengenal orang hebat. Tapi saya tahu, siapa saja dari mereka yang benar – benar memiliki hati yang baik…

Cause it’s all obviously seen from the modesty within the glory.

Advertisement

One Response to “The modesty within…”

  1. renra_cikatos January 27, 2011 at 6:56 am #

    nice posting..thanks you

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.