Critical Essay’s 3rd winner of Economic Scientific Competition 2010-Faculty of Economics University of Indonesia.
“When I do good, I feel good. When I do bad, I feel bad. That’s my religion”.~Abraham Lincoln
Saya selalu yakin bahwa setiap hal besar yang seseorang lakukan, baik atau buruk, adalah suatu hasil kompleksitas hal sederhana yang mendasar. Layaknya wujud lahiriah makhluk hidup yang tumbuh dan berkembang seiring bertambahnya usia, karakter pun mengalami fase yang berbanding lurus dengan waktu dan segala kesempatan pebelajaran disetiap detiknya. Karakter seorang tokoh besar dunia pun pasti pernah dilewati oleh fase pemikiran naif yang tak mengenal wilayh abu-abu dari suatu kehidupan.
“Ketika saya melakukan hal yang baik, saya merasa baik. Ketika saya melakukan hal yang buruk, saya merasa buruk. Itulah keyakinan saya”. ~Abraham Lincoln
Pernyataan diatas kemungkinan besar juga bisa saya dapat dari adik saya yang masih berumur 11 tahun, yang masih duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar; dalam bentuk yang lebih kanak-kanak tentunya.
“Kalau Tonny ngehibur teman Tonny yang lagi sedih, Tonny pasti senang karena bisa nolong teman. Kalau Tonny lagi iseng ngejek teman Tonny sampai dia sedih, terus nangis, Tonny pasti jadi ngerasa nakal”, begitu kira – kira pernyataan yang mungkin adik saya berikan. Aku anak yang baik kalau aku berbuat baik. Aku anak yang nakal kalau aku berbuat nakal. Titik.
Terdengar naif? Memang. Karena sewaktu kecil, segala konsep kebaikan tidak ditanamkan bersamaan dengan konsep kepentingan. Faktornya bisa jadi ada dua: Daya pikir anak kecil yang belum kompleks atau inilah kaidah pendidikan; dasarilah segala sesuatu dengan yang baik. Kalaupun yang buruk kemudian muncul sebagai pilihan hidup, biarkanlah itu menguji kekuatan dari dasar yang telah tertanam.

lil' bro means Power Ranger Battle Time's partner! ;D
Semakin dewasa dan banyaknya pengalaman seseorang, pasti semakin memengaruhi karakter, idealisme, kualitas dan kuantitas pengetahuan, serta cara pandang seseorang tersebut karena itulah inti dari aspek kognitif sebagai kekuatan internal individu. Cara bicara, gaya konsolidasi dan birokrasi, bahasa tubuh, serta aspek behavioral lainnya adalah bentuk penyajian yang siap menjadi faktor atraktif dalam berinteraksi dengan pihak eksternal – atau bisa jadi, itu hanya bentuk pemikiran masa kanak-kanak yang berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Sementara tindakan di lapangan adalah faktor utama yang mengeksekusi batin; mengeksekusi integritas.
Sebagai eksekutor sosial, orang lain mungkin bisa menilai, memperdebatkan, memuji, atau bahkan menghujat integritas kita dengan cara dan perhitungannya masing-masing. Tapi, hanya kita sendiriliah yang sebenarnya paling mampu mengeksekusi integritas itu dengan tepat dan jujur. “Apakah saya sudah melakukan hal yang saya katakan dan saya yakini? Atau saya sudah membohongi diri saya sendiri dengan berpura-pura lupa kalau saya sudah melakukan hal yang bukan ‘saya’?”
Saya yakin, setiap orang yang bertanya pada diri sendiri, pasti akan tahu jawabannya. Kalaupun ada banyak hal yang menghablurkan jawaban tadi, itu hanya ‘suara-suara mereka’ yang memberikan, mendiktekan, atau mungkin memaksakan opini mereka saja. Ketika integritas dipersoalkan, sebenarnya pikiran sederhana masa kanak-kanak kita tadilah yang dapat menjawab pertanyaan, “am I feeling good after I did this?”
“Integrity is what we do, what we say, and what we say we do”.~Don Galer
Continue reading →